setiap saat setiap waktu parasmu mengusik lelahku
setiap saat setiap waktu bayangmu terasa menyapaku
setiap saat setiap waktu nafasmu terlihat mendekatiku
setiap saat setiap waktu diriku menantikan dirimu
setiap saat setiap waktu aku selalu menyanjungmu
setiap saat setiap waktu aku selalu memikirkanmu
setiap saat setiap waktu dirimu melewatkanku
setiap saat setiap waktu parasmu menenggelamkanku
setiap saat setiap waktu cintamu menghancurkanku
setiap saat setiap waktu
terungkap, termanis, tersakiti
perangaimu kebabalasan teman tercinta
kali ini pasti takkan aku maafkan
kau rebut perempuanku nyata-nyata dihadapanku
kau permainklan aku dengan busuknya gerak-gerik tingkahmu
namun yang salah tetap perempuan aku
mengapa dia mau menerima kamu dan meninggalkan aku
lama kunanti namun ternyata menyakiti
selalu kutunggu walau akhirnya berakhir pilu
selamat atas kemenanganmu
engkau berkalung medali tepat dihadapan kekalahanku
aku harus mencari yang jauh lebih baik lagi
walau aku takut nanti terkhianati kembali
SEPT 3 …. PAPUA…. NINGSIH
KEPURA-PURAANKU MENGHANCURKAN HIDUPKU
SEOLAH BERTANYA, SIAPA YANG AKAN MENJAWAB
KUACUHKAN IMPIKU SEBENARNYA ITU TUJUAN AKHIRKU
MENGAPA SENYUMMU MEMBUAT AKU TERJERAMBAB
ALIH-ALIH MENGAJAKMU TUK BERSAMA
TERNYATA BAHAYA LATEN CINTAKU BERGELORA
JUTAAN CARA TELAH AKU COBA
BAHKAN DENGAN SEJURUS TIPU DAYA MENGIKUTINYA
SEMPAT KAU BERIKAN RASA YANG TAK BIASANYA
CELAKANYA, KUANGGAP BAGIKU PERHATIAN YANG BERHARGA
KADANG DATANG DAN TAK PERNAH LUPA TUK MENYAPA
KADANG HILANG DAN PASTI MENYAKITKAN JIWA
KUAKUI AKU KALAH DARIMU
DENGAN PENAMPILAN ISTIMEWA PADA DIRIMU
SELALU MENCOBA TUK MENGIMBANGI DIRIMU
NAMUN MENGAPA HANYA KEKECEWAAN YANG DATANG PADAKU
TERIMA KASIH ATAS KEKECEWAANKU
SEMOGA BISA LULUHKAN KERASNYA KARANG CINTAMU
MESKI NANTINYA, KEJAMNYA NORMA AKAN MENGHADANG
AKAN KU LALUI KELAK BERSAMA DENGANMU…. SEMOGA
menakar kadar yang terlanjur semakin pudar
menakar kadar yang terlanjur semakin pudar
meraut majalnya sebuah nyali yang sekian kali berani untuk di uji
melihat seberapa dekat hasrat yang terlambat dan seolah enggan mendekat
menyanyikan untaian tembang untuk mengusir jahatnya sang kesepian
malam ini cahaya itu kembali pergi dan enggan menerawangi bumi
pagi tadi sempat tersenyum ditemani hangatnya cahaya mentari
sore hari kembali pergi menjauhi, meski sempat mengharap akan hadirnya pelangi
walau sesaat ketika kilau cahaya bulan perlahan mendekati
seolah – olah ingin segera mendekati
namun seperti kemarin cahaya itu redup dengan sendiri
hujan badai hanya sebagai pemanis tingginya imagi
dengan jutaan maksud yang datangnya tersembunyi
terang saja semua kembali terpana dan sedikit terkesima
permainan kembali seperti sang juara bertahan yang sekuat tenaga mempertahankan mahkota
entah kapan semua akan berhenti dengan sendiri
rasa letih yang nantinya akan muncul dengan sendiri
mungkin tengah malam nanti
Menjauhlah Dengan Segera
Ingin Membenci Setengah Mati
Keluarkan Sumpah Serapah Ini
Hanya Saja Tak Cukup Untuk Berani
Angan Yang Terlanjur Melayang Tingi
nyanyian kekalahan
puisi – puisi kebohongan
sajak cinta penuh kepalsuan
syair-syair penuh kepura-puraan
lagu-lagu cinta berujung pengkhianatan
bosan aku dengan cintamu
bosan aku dengan perangaimu
ingin aku melepasmu segera
ingin aku menghancurkanmu segera
sajak sajak lewat tengah malam
puisi – puisi dini hari
syair-syair penyambar petir
lagu cinta untuk pendusta
Sekadar Menahan Imbang
teriak kembali dan terlanjur untuk sedih lagi
menatapmu aku tak cukup mampu
aku terlalu rendah untukmu
aku tak cukup mampu untuk meraihmu
aku kalah dan terus kalah
bahkan hasil imbang tak mampu aku dapatkan
apalagi aku meraih kemenangan
akan ku usahakan agar aku menang
aku berlatih kembali dengan guru cintaku
semoga aku dapat memenangkan pertarungan cintaku lagi
dan meruntuhkan dinding pemisah yang terlalu mengkungkkungku
hingga aku kembali melonjak kegirangan
Jejaka – Jejaka
jejaka-jejaka berlonjak-lonjak kegirangan
senyum simpul kembali bersandar di bahuku sebelah kiri
indahnya aku seakan-akan keinginan lama yang berwujud nyata
entah seperti apa aku harus sekuat tenaga menjaganya
paras ayu berbudi tingkah laku
gelak kemayu memanjakan lelahku
polah mesra menggenapi sejuta aura
apakah ini yang diejawantahkan oleh sang tresna
buana cemerlang menenangkan balaunya perasaan
kuharap nelangsa untuk secepat mungkin sadar dan enggan menyapa
meraihnya sungguh sebuah awal dari terjalnya sebuah perjuangan
dan semua itu kuharap berbuah manis dan menenggelamkan penyesalan
Setengah Menjauh
menepi untuk kembali ditemui pelangi
menjauh untuk segera cepat berlari
menaruh harapan pada sosok yang salah
mengumbar kepalsuan dibumbui sedapnya kebohongan
hancurkan semua kebimbangan diri
runtuhkan setiap jengkal keteguhan pribadi
rupamu tidak ingin sekalipun aku hayati kembali
cacianmu untukku semakin menyudutkan lagi
lembutmu menyapaku namun terlalu imitatif
rayuanmu dan cintamu berjalan tanpa punya rasa malu
melengkapi diri hanya untuk di khianati
merajut mimpi hanya untuk dirusak kembali
temukan jawaban yang tanpa didasari sebuah pertanyaan
menggelitik perasaan digelayuti awan cerah yang tebal
Tertunda Menata
merusak semua pakem yang telah terbentuk
menghancurkan asa di tengah-tengah gelombang asmara
mengedepankan logika yang semakin tersamarkan oleh cinta
membutakan perasaan dihinggapi sejuta keinginan
semu tak tampak dan terasa menakutkan
semua itu terlihat dari kicauan kebohongan
setelah semua terlihat ditandai dengan lakon penuh sandiwara
seusai malam memenuhi langit yang ditinggal oleh senja
lalai lupa menyeruak dengan tiba-tiba
serbuan hasrat menggelora di depan perasaan semu
aku kembali bermimpi dan tak kunjung menjauhi
sinar itu yang telah menyilaukan diri
kembali bermimpi
mimpi serasa menggelayuti
ditemani gemericik hujan yang membasahi bumi
kini aku masih menyadari
lelahku tak kunjung pergi menantikan cahaya imagi
kurasa aku terlalu cepat melangkah
tanpa tersadar kilaunya memudar sirna
kuputuskan aku untuk sekuat tenaga berhenti sejenak
sambil ku tunggu lambaian menyusul segera
sesalpun tak segan untuk kembali mengemuka
cacian lembut bertautan dan berkumandang mesra
segenap cerita menginginkan dan menuntunnya pulang segera
hingga aku tersadar aku harus tetap melangkah
tapi aku tetap memutuskan untuk menunggu cahaya imagi
meski sampai kapan aku harus tetap menanti
mesti aku harus menahan kesedihan ini
menuruti seruan menanti cahaya imagi